Pengalihan ke Timur Tengah Picu Kekhawatiran Menipisnya Stok Rudal Patriot AS di Eropa
Persediaan rudal pencegat pertahanan udara Patriot milik Amerika Serikat di kawasan Eropa kini menghadapi tekanan berat. Eskalasi konflik militer antara AS dan Iran menjadi faktor utama yang mempercepat pengurasan cadangan persenjataan tersebut, di samping pengiriman bantuan militer yang terus mengalir ke Ukraina.
Pengalihan alokasi amunisi secara masif ke kawasan Timur Tengah dilakukan guna menangkis gelombang serangan rudal balistik dan drone. Berdasarkan kalkulasi lembaga pemikir Center for Strategic and International Studies (CSIS), tingkat penggunaan rudal dalam mengatasi konflik Iran diperkirakan telah menyedot hingga 65 persen dari total stok Patriot AS. Kondisi ini memicu kekhawatiran di kalangan pejabat militer Eropa terkait kesiapan sistem pertahanan NATO jika harus menghadapi potensi ancaman udara secara mendadak.
Meski demikian, pihak Departemen Pertahanan AS (Pentagon) bersama pejabat senior NATO dengan tegas membantah anggapan bahwa stok persenjataan mereka telah berada dalam kondisi kritis. NATO menyatakan masih memiliki kapasitas dan cadangan amunisi yang memadai untuk melindungi wilayah sekutu.
Sebagai solusi jangka panjang untuk mengatasi keterbatasan pasokan global, NATO telah menyiapkan pembentukan fasilitas produksi rudal Patriot baru di Jerman. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat pemenuhan kebutuhan armada pencegat udara bagi negara-negara anggota aliansi di masa mendatang.